Pembangunan

Pembangunan Pura Kertha Bumi

Om Swastiastu,

Pembangunan Pura Kertha Bumi dimulai pada tahun 1993. Sebelumnya terdapat suatu Sanggar pemujaan untuk tempat persembahyangan, namun meningkatnya jumlah umat menyebabkan daya tampung Sanggar tersebut tidak mencukupi. Misalnya pada saat perayaan Hari Raya Nyepi, umat perlu menyewa tenda karena daya tampung Sanggar tidak mencukupi.

Pada tahun 1993, umat Hindu dusun Bongso Wetan melakukan upaya pembelian sebidang tanah yang akan dijadikan sebagai lahan pembangunan Pura. Keterbatasan dana parisada tidak membuat umat Hindu dusun Bongso Wetan patah arang. Dengan dana swadaya dan sistem hutang pada beberapa umat pembelian ini terlaksana. Dana swadaya ini merupakan dana yang terkumpul dari sumbangan uang (yang nilainya sedikit), perhiasan dan ternak umat yang kemudian diuangkan. Sedangkan sistem hutang pada umat dilakukan karena tidak ada pilihan lain dalam mencari dana punia ke daerah lain. Sistem hutang ini memungkinkan parisada melakukan pelunasan bertahap selama tiga tahun. Pada tahun itu kondisi dusun Bongso Wetan tidak dalam keadaan baik karena panen yang gagal, kekeringan dan berbagai masalah lainnya.

Dengan yadnya yang tulus ikhlas dan atas karunia Sang Hyang Widhi, sedikit demi sedikit perekonomian umat mulai mengalami peningkatan. Peningkatan ini semakin menggigihkan umat dalam usaha pembangunan pura yang diidam-idamkan. Pada awalnya lahan pura yang dibeli merupakan daerah bukit kecil yang permukaan tanahnya tidak rata dan dianggap daerah yang secara mistis berbahaya.

Setiap hari (khususnya di malam hari), umat Hindu melaksanakan kerja bakti dan membuat pagar keliling dari bambu untuk area pura. Ida Pedande Jala Karana Manuaba (Griya Kenjeran) merupakan pendeta yang pertama kali mengukur tanah Pura untuk selanjutnya membagi menjadi Nista Mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala.

Pembangunan selanjutnya adalah pembangunan Pagar Keliling dari batu bata dan Padmasana di tahun 1994-1995. Pembangunan tersebut dilanjutkan dengan pembangunan Gapura danĀ  Balai Agung di tahun 1996-1998 serta fasilitas MCK di tahun 1999.

Pembangunan Balai Pawedan di tahun 2000 dan dilanjutkan pembangunan Kori Agung yang baru selesai di tahun 2006. Saat ini Pembangunan Pura dilakukan untuk pembangunan Candi Bentar dan Balai Kul-kul yang menghabiskan biaya 200 Juta. Semoga dengan niat baik, yadnya yang tulus ikhlas dan asung kerta wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi pembangunan ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar.

Berikut ini bererapa foto proses pembangunan yang tengah berlangsung (foto diambil pada tanggal 30 Nopember 2009)

Candi Bentar 1

Pembangunan Candi Bentar

Candi Bentar 2

Pembangunan Candi Bentar 2

Candi Bentar 3

Pembangunan Candi Bentar 3

1 Komentar

  1. Drs.I Made Wistra,M.M,MBA berkata,

    11 Desember 2009 pada 10:12 am

    Om Suastiastu,
    Untuk penggalian dana pembangunan Pura Kerthia Buana, saya menyarankan agar dimuat di harian Bali Post agar Umat Sedharma di Bali bisa medana punia.Saya sangat yakin bahwa Umat Hindu di Bali akan sangat bahagia bisa meyadnya dengan medana punia, disamping memberikan informasi bagi umat hindu di Bali untuk melakukan perjalanan suci Tirta Yatra ke Pura Kertha Buana dan Pura lainnya di Tanah Jawa. Saya bangga dan bahagia terhadap umat kita di jawa yang masih memegang teguh Agama leluhurnya sampai sekarang. Mudah2an Hindu semakin jaya dan damai selalu! Om Santhi3 Om.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.